Nama : Syarah Nur Fajar
NIM : C1AA18112
Apa
itu DEMENSIA?
Istilah demensi itu berasal dari bahasa asing emence yang pertama kali
dipakai oleh Pinel (1745 - 1826). Pikun sebagaimana orang awam mengatakan
merupakan gejala lupa yang terjadi pada orang lanjut usia.
Demensia adalah sindrom terjadinya
penurunan memori, berpikir, perilaku, dan kemampuan melakukan kegiatan
seharihari pada seseorang. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa demensia merupakan kumpulan gejala yang berlangsung secara progresif yang
ditandai dengan perubahan perilaku, penurunan memori, orientasi, kesulitan
dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan sehingga mengakibatkan kegiatan
sehari- harinya terganggu (WHO, 2016).
kemunduran
kognitif yang sedemikian parahnya, sehingga dapat mengganggu aktivitas dan
kegiatan sosial lannya. Kejadian tersebut membuat penderita tidak mampu
melaksanakan kegiatan seperti sedia kala karena adanya penurunan memori dan
daya ingat yang semakin lemah (Nugroho, 2008).
Prevalensi demensia pada lansia di wilayah
DKI Jakarta tahun 2006
sebesar 62,5%.3 Pada tahun2007,
prevalensi demensia pada lansia di wilayah Jakarta Barat cukup besar yaitu47,5%. Dan total penderita penyakit
demensia di Indonesia pada tahun 2013 mencapai satu juta orang (Kemenkes, 2016.)
Gejala awal biasanya adalah kemunduran
fungsi kognitif ringan, kemunduran dalam mempelajari hal-hal baru, ingatan
terhadap peristiwa jangka pendek menurun, dan kesulitan menemukan kata-kata
yang tepat (Pieter, Janiwarti, & Saragih, 2011). Penyebab demensia yaitu
kematian sel sel saraf atau hilangnya komunikasi antar sel sel yang ada di otak, Daya Ingat (memori),
berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali informasi
yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information retrieval from
memory) dan Intelegensia Dasar (Fluid
intelligence) yang berarti penurunan fungsi otak bagian kanan yang antara lain
berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal, pemecahan masalah, mengenal wajah
orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi (dalam Flavel,
1997).
Kenapa terjadi
demensia?
Lansia pada umumnya mengalami
proses penuaan dan degeneratif. Faktor yang mempengaruhi terjadinya demensia diantaranya
faktor predisposisi, yaitu faktor perpindahan yang berhubungan dengan proses
menua, Dan dapat berpengaruh pada fisik, psikososial,
spiritual, dan kognitif. Salah satunya mengganggu pada fisik yaitu dapat
menyebabkan penyakit iskemik dan terjadi disfungsi otak, seperti hepar yang
membesar dan ensefalopati hepatik, atau menunjukan adanya penyakit sistemik
yang berhubungan dengan proses pada sistem saraf pusat. Dan Hasil penelitian
telah ditemukan bahwa faktor yang mempengaruhi demensia yaitu karena penyalah gunaan zat adiktif yang
banyak (Braindisorder, 2010).
Lansia yang mengalami demensia
tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri tetapi juga pada keluarga yang
merawatnya. Menurut penelitian Widyastuti (2011), lansia dengan demensia
memberikan dampak terhadap keluarga yang merawatnya. Respon keluarga dalam
merawat lansia demensia sangat beragam, salah satunya menimbulkan beban pada
keluarga. Beban keluarga dalam merawat lansia yang terindentifikasi adalah
beban fisik berupa keluhan fisik dan munculnya penyakit baru pada keluarga yang
merawat lansia, beban psikologi seperti rasa marah pada lansia, beban ekonomi
dan beban sosial. Keluarga yang merawat demensia memiliki beban yang tinggi
karena membutuhkan biaya dan ketergantungan yang tinggi (Wang, 2012).
Pengobatan demensia
Demensia yang tidak di deteksi
secara dini dan ditangani dengan benar dapat mengakibatkan kematian. Di
Beijing, demensia menjadi salah satu faktor penyebab kematian. Setiap tahun 2
dari 100 orang yang berusia 65 tahun ke atas dengan demensia meninggal (Hong Bo
et al, 2011).
Pengobatan
demensia tergantung pada penyebabnya. Dalam kasus yang progresif, tidak ada
obat dan tidak ada pengobatan yang memperlambat atau menghentikan perkembangannya.
Tetapi ada
perawatan obat sementara yang dapat memperbaiki gejalanya adalah salah satu obat yang kadang-kadang
diresepkan untuk membantu jenis lain demensia. Selain itu, terapi non obat juga
dapat meringankan beberapa gejala demensia. Tantangan merawat pasien demensia adalah
menggabungkan antara penyakit dan perawatan holistik yang dibutuhkannya (Lachs,
Pillemer, 2004).Dan perawatan paliatif juga diperlukan untuk berbagai macam
penyakit, diantaranya adalah pada pasien demensia (WHO, 2018). Serta pasien
demensia perlu untuk selalu dibimbing dan didampingi. Hal tersebut perlu
dilakukan karena pasien sering lupa, bingung, kesal, bahkan tiba-tiba marah
tanpa sebab.
Bagaimana menghindari penyakit demensia?
Martina menyarankan setiap
orang untuk mulai menjalani gaya hidup sehat agar terhindar dari
demensia.
ada 6 cara melawan demensia
ada 6 cara melawan demensia
1. Berolahraga
Olahraga
dan aktivitas fisik adalah cara pencegahan efektif untuk mengurangi resiko
demensia .
2. Menstimulasi
otak
Menantang
otak dengan aktifitas baru dapat membantu membangun neuron baru dan memperkuat
koneksi antar neuron.
3. Mengkonsumsi
gizi seimbang
Makanan
adalah bahan bakar utama untuk otak dan tubuh. Sayur, buah dan gizi seimbang
dapat membantu keduanya berfungsi dengan baik.
4. Menjaga
kesehatan jantung
Meroko,
tekanan darah tinggi, kolestrol, diabetes dan obesitas adalah penyakit yang
berkontribusi memperparah penyakit demensia.
5. Bersosialisasi
Bersosialisasi
yang membuat bahagia bermanfaat untuk kesehatan otak
6. Terapi
hidrogym atom
Air
hidrogen aktif dapat membantu mencegah masalah demnsia. Sebab anti oksidan yang
terkandung pada hidrogen aktif dapat dapat membantu mencegah kerusakan neuronal
di otak penderita.
Referensi
Giena, V.P., Malintou, A. B., Efendi, S.
(2019).
Factors Related to Dementia Among Elderly
at Pagar Dewa Nursing Home in Bengkulu, Indonesia. Asian
Comm. Health Nurs. Vol
1, No 1. 1-9
Kusumawaty, Ira. (2018). Kajian Kebutuhan
Pelayanan Paliatif bagi Pasien Demensia Assessing The Palliative Care Needs for
Dementia Patiens. Seminar Nasional
Keperawatan “Tren Perawatan Paliatif sebagai Peluang Praktik Keperawatan
Mandiri”. No 2. 102-108
Sari, C.W.M., Ningsih, E. F., Pratiwi, H.
S. (2018). Description
Of Dementia In The Elderly Status In The Work Area Health Center Ibrahim Adjie
Bandung.
Indonesian Contemporary Nursing Journal. Vol 3, No 1. 1-11
Siregar, Riky, Gunawan. (2019). Gangguan
Berfikir Dimensia (Pikun) pada Lansia. Jurnal
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN. Vol 3, No 2. 183-187
Sopyanti, Y. D., Sari, C.W.M., Sumarni, N.
(2019). Gambaran Status Demensia dan Depresi pada Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas Guntur Kelurahan Sukamentri Garut. Sopyanti. Vol 5, No 1. 26-38



Woaw sangat bermanfaat. Terimakasih sudah menulis artikel ini sangat membantu. Terus kembangkan, semoga menjadi pramugari
BalasHapusMantap
BalasHapusMantul kaka
BalasHapusLuarbiasa
BalasHapusπ
BalasHapusAku pikunan masa ia udh tua, masih 18 thun ;( tpi makasih infonya karna ada cara melawan dimensianya jga π
BalasHapusMantap kak sangat bermanfaat ππ
BalasHapusBagus, semangat syarahh π
BalasHapusSemangat terus kakak
BalasHapusBermanfaat sekali, terimakasihπ
BalasHapusSangat bermanfaat ka
BalasHapusMantap
BalasHapusSangat bermanfaat kak terimakasih π
BalasHapusMantap luar biasa bermanfaat kaka
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusSemoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua
BalasHapusπ
BalasHapusApakah kamu pakar buku propesinal
BalasHapusInformatif
BalasHapusSangat bermanfaat artikel nya :)
BalasHapusAsyiaaapppp
BalasHapus