Selasa, 14 Mei 2019

PENYEBAB PENYAKIT DEMENSIA




Nama : Syarah Nur Fajar
NIM : C1AA18112

Apa itu DEMENSIA?

  Istilah demensi itu berasal dari bahasa asing emence yang pertama kali dipakai oleh Pinel (1745 - 1826). Pikun sebagaimana orang awam mengatakan merupakan gejala lupa yang terjadi pada orang lanjut usia.
Demensia adalah sindrom terjadinya penurunan memori, berpikir, perilaku, dan kemampuan melakukan kegiatan seharihari pada seseorang. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa demensia merupakan kumpulan gejala yang berlangsung secara progresif yang ditandai dengan perubahan perilaku, penurunan memori, orientasi, kesulitan dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan sehingga mengakibatkan kegiatan sehari- harinya terganggu (WHO, 2016).
kemunduran kognitif yang sedemikian parahnya, sehingga dapat mengganggu aktivitas dan kegiatan sosial lannya. Kejadian tersebut membuat penderita tidak mampu melaksanakan kegiatan seperti sedia kala karena adanya penurunan memori dan daya ingat yang semakin lemah (Nugroho, 2008).
Prevalensi demensia pada lansia di wilayah DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 62,5%.3 Pada tahun2007, prevalensi demensia pada lansia di wilayah Jakarta Barat cukup besar yaitu47,5%. Dan total penderita penyakit demensia di Indonesia pada tahun 2013 mencapai satu juta orang (Kemenkes, 2016.)
Gejala awal biasanya adalah kemunduran fungsi kognitif ringan, kemunduran dalam mempelajari hal-hal baru, ingatan terhadap peristiwa jangka pendek menurun, dan kesulitan menemukan kata-kata yang tepat (Pieter, Janiwarti, & Saragih, 2011). Penyebab demensia yaitu kematian sel sel saraf atau hilangnya komunikasi antar sel sel yang ada di otak, Daya Ingat (memori), berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information retrieval from memory) dan  Intelegensia Dasar (Fluid intelligence) yang berarti penurunan fungsi otak bagian kanan yang antara lain berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal, pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi (dalam Flavel, 1997). 


Kenapa terjadi demensia?



Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Faktor yang mempengaruhi terjadinya demensia diantaranya faktor predisposisi, yaitu faktor perpindahan yang berhubungan dengan proses menua, Dan  dapat berpengaruh pada fisik, psikososial, spiritual, dan kognitif. Salah satunya mengganggu pada fisik yaitu dapat menyebabkan penyakit iskemik dan terjadi disfungsi otak, seperti hepar yang membesar dan ensefalopati hepatik, atau menunjukan adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan proses pada sistem saraf pusat. Dan Hasil penelitian telah ditemukan bahwa faktor yang mempengaruhi demensia  yaitu karena penyalah gunaan zat adiktif yang banyak (Braindisorder, 2010).
Lansia yang mengalami demensia tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri tetapi juga pada keluarga yang merawatnya. Menurut penelitian Widyastuti (2011), lansia dengan demensia memberikan dampak terhadap keluarga yang merawatnya. Respon keluarga dalam merawat lansia demensia sangat beragam, salah satunya menimbulkan beban pada keluarga. Beban keluarga dalam merawat lansia yang terindentifikasi adalah beban fisik berupa keluhan fisik dan munculnya penyakit baru pada keluarga yang merawat lansia, beban psikologi seperti rasa marah pada lansia, beban ekonomi dan beban sosial. Keluarga yang merawat demensia memiliki beban yang tinggi karena membutuhkan biaya dan ketergantungan yang tinggi (Wang, 2012).

Pengobatan demensia
Demensia yang tidak di deteksi secara dini dan ditangani dengan benar dapat mengakibatkan kematian. Di Beijing, demensia menjadi salah satu faktor penyebab kematian. Setiap tahun 2 dari 100 orang yang berusia 65 tahun ke atas dengan demensia meninggal (Hong Bo et al, 2011).
Pengobatan demensia tergantung pada penyebabnya. Dalam kasus yang progresif, tidak ada obat dan tidak ada pengobatan yang memperlambat atau menghentikan perkembangannya.
Tetapi ada perawatan obat sementara yang dapat memperbaiki gejalanya adalah salah satu obat yang kadang-kadang diresepkan untuk membantu jenis lain demensia. Selain itu, terapi non obat juga dapat meringankan beberapa gejala demensia. Tantangan merawat pasien demensia adalah menggabungkan antara penyakit dan perawatan holistik yang dibutuhkannya (Lachs, Pillemer, 2004).Dan perawatan paliatif juga diperlukan untuk berbagai macam penyakit, diantaranya adalah pada pasien demensia (WHO, 2018). Serta pasien demensia perlu untuk selalu dibimbing dan didampingi. Hal tersebut perlu dilakukan karena pasien sering lupa, bingung, kesal, bahkan tiba-tiba marah tanpa sebab.

Bagaimana menghindari penyakit demensia?
Martina menyarankan setiap orang untuk mulai menjalani gaya hidup sehat agar terhindar dari demensia.

ada 6 cara melawan demensia
1. Berolahraga
Olahraga dan aktivitas fisik adalah cara pencegahan efektif untuk mengurangi resiko demensia .
2. Menstimulasi otak
Menantang otak dengan aktifitas baru dapat membantu membangun neuron baru dan memperkuat koneksi antar neuron.
3. Mengkonsumsi gizi seimbang
Makanan adalah bahan bakar utama untuk otak dan tubuh. Sayur, buah dan gizi seimbang dapat membantu keduanya berfungsi dengan baik.
4. Menjaga kesehatan jantung
Meroko, tekanan darah tinggi, kolestrol, diabetes dan obesitas adalah penyakit yang berkontribusi memperparah penyakit demensia.
5. Bersosialisasi
Bersosialisasi yang membuat bahagia bermanfaat untuk kesehatan otak
6. Terapi hidrogym atom
Air hidrogen aktif dapat membantu mencegah masalah demnsia. Sebab anti oksidan yang terkandung pada hidrogen aktif dapat dapat membantu mencegah kerusakan neuronal di otak penderita.
































Referensi

Giena, V.P., Malintou, A. B., Efendi, S. (2019). Factors Related to Dementia Among Elderly at Pagar Dewa Nursing Home in Bengkulu, Indonesia. Asian Comm. Health Nurs. Vol 1, No 1. 1-9
Kusumawaty, Ira. (2018). Kajian Kebutuhan Pelayanan Paliatif bagi Pasien Demensia Assessing The Palliative Care Needs for Dementia Patiens. Seminar Nasional Keperawatan “Tren Perawatan Paliatif sebagai Peluang Praktik Keperawatan Mandiri”. No 2. 102-108
Sari, C.W.M., Ningsih, E. F., Pratiwi, H. S. (2018). Description Of Dementia In The Elderly Status In The Work Area Health Center Ibrahim Adjie Bandung. Indonesian Contemporary Nursing Journal. Vol 3, No 1. 1-11
Siregar, Riky, Gunawan. (2019). Gangguan Berfikir Dimensia (Pikun) pada Lansia. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN. Vol 3, No 2. 183-187
Sopyanti, Y. D., Sari, C.W.M., Sumarni, N. (2019). Gambaran Status Demensia dan Depresi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Guntur Kelurahan Sukamentri Garut. Sopyanti. Vol 5, No 1. 26-38

21 komentar:

  1. Woaw sangat bermanfaat. Terimakasih sudah menulis artikel ini sangat membantu. Terus kembangkan, semoga menjadi pramugari

    BalasHapus
  2. Aku pikunan masa ia udh tua, masih 18 thun ;( tpi makasih infonya karna ada cara melawan dimensianya jga πŸ™

    BalasHapus
  3. Mantap kak sangat bermanfaat πŸ™πŸ‘

    BalasHapus
  4. Bagus, semangat syarahh 😊

    BalasHapus
  5. Bermanfaat sekali, terimakasihπŸ‘

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat kak terimakasih πŸ‘

    BalasHapus
  7. Mantap luar biasa bermanfaat kaka

    BalasHapus
  8. Bermanfaat

    BalasHapus
  9. Semoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua

    BalasHapus
  10. Apakah kamu pakar buku propesinal

    BalasHapus
  11. Sangat bermanfaat artikel nya :)

    BalasHapus

PENYEBAB PENYAKIT DEMENSIA

Nama : Syarah Nur Fajar NIM : C1AA18112 Apa itu DEMENSIA?   Istilah demensi itu berasal dari bahasa asing emence yang pert...